Punya anak kembar? Pernah kebayang ga sih? Jujur, nggak pernah sekalipun kebayang punya anak kembar lho! Tapi sekarang keluarga ini diberkati dengan si kembar #RRboys. Di post sebelumnya, saya sudah share pengalaman hamil kembar. Dan kali ini mau share pengalaman melahirkan si kembar. Let’s start!
Memasuki usia kehamilan 36 minggu, dokterku sudah menyarankan untuk tidak bekerja dan banyak istirahat di rumah karena kehamilan kembar ini resiko prematur. So, saya sudah mulai cuti dan mengurangi kegiatan sambil berdoa dedek dedek bayi anteng di perut sampai tiba jadwal caesar. Untuk melahirkan kali ini, saya pilih di RS P*K karena dokternya hanya praktek di sini. Kalau zaman dulu MY, dokternya praktek di rumah sakit lain. Ya memang setelah dibandingkan harga di RS ini lebih mahal dibandingkan RS tempat dulu MY lahir. Tapi rasanya kami sudah memantapkan hati tetap ingin melanjutkan ke dokter ini. Untuk melahirkan kembar, biaya kurleb 1,5x dari biaya melahirkan tunggal. Untuk biaya obat2an tergantung pemakaian. Untuk biaya pemakaian ruangan anak dll, dihitung per anak. Jadi penting buat mama papa, selalu tanyakan harga estimasi melahirkan per kelas yang dipilih ya.
Sebelum jadwal melahirkan (tindakan), saya diwajibkan melakukan tes darah (ini ada rujukan dari dokter – seperti tes HIV dan dll) dan tes PCR. Kurang lebih biaya tes ini 3jutaan. Untuk pendamping hanya diijinkan satu orang dan wajib tes antigen 1x24jam sebelum. Untuk jadwal tanggal tindakan, dokter akan memberikan rentang tanggal untuk dipilih. Untuk jam, mengikuti jadwal dari pihak RS. Diinfokan satu hari sebelum bahwa jadwal tindakan saya hari H adalah pukul 10.00 (kalau request jam, ada dikenakan biaya charge tambahan). Saya tiba di RS hari H pukul 07.00 pagi.
Setiba di RS, kita langsung menuju area Bersalin di lantai 3. Pas tiba kita langsung disambut hangat oleh petugas administrasi di sana. Mengisi form2 nama anak dan lain-lain. Setelah itu, diarahkan untuk berganti pakaian, dan bertemu bidan. Bidan – bidan di sana profesional dan ramah dan pagi itu memang tidak terlalu ramai, hanya ada 5 orang pasien yang dijadwalkan tindakan. Tidak seperti pengalaman pertama dulu lahiran MY, yang semua seperti kesannya buru-buru tapi cekatan sih tetep. Nah ini juga profesional, ramah dan santai. Prosedur pertama adalah CTG perut sekitar setengah jam. Di saat ini, suami diminta untuk mengurus administrasi rawat inap di lantai 1. Selama CTG, beberapa kali juga Bidan memberikan arahan-arahan. Kadang sesekali ngobrol juga. Suami juga boleh masuk menemani saat di ruang yg CTG. Kardiotokografi (CTG) adalah Alat yang dipakai untuk mencatat pola denyut jantung janin dalam hubungannya dengan adanya kontraksi ataupun aktivitas janin dalam rahim.
Dari CTG ini rupanya terlihat sudah ada kontraksi. Untung saja sudah memang jadwal tindakan.
Jam 9 pagi, saya disiapkan untuk pindah ke ruang operasi. Jadi duduk di kursi roda lalu diantar perawat. Suami masih menemani. Sampai di satu ruangan, saya pindah berbaring di ranjang. Lalu dihampiri oleh Dokter anestesi yang super ramah dan menjelaskan tentang prosedurnya. Dan setelah itu berpisah dengan suami. Saya masuk ke ruangan gitu, di bilik sambil menunggu kedatangan dokter. Sambil menunggu, beberapa kali juga dihampiri oleh dokter anak dan dokter obgyn yang membantu dokter utama.
Tak lama setelah itu, saya didorong lagi masuk ke ruang operasi. Yang saya takutnya selama operasi dari pengalaman pertama adalah dinginnya ruang operasi dan suntik anestesi. Tapi ternyata dua hal itu tidak terjadi di kali ini. Tiba di ruang operasi, bertemu dengan dokter anestesi dan perawat yang profesional memberikan rasa nyaman dan aman. Padahal lumayan deg-degan juga. Ruang operasinya juga beda banget sama RS yang dulu pertama lahiran. Dan pastinya saya tidak merasa kedinginan, karena perawat langsung memberikan selimut tebal gitu. Saat mau disuntik anestesi saya juga tidak dalam posisi duduk, tapi cukup berbaring miring dan tidak merasakan sakit yang berarti. Setelah itu, kaki mulai berasa panas dan kebal. Sambil menunggu dokter utama datang, dokter lainnya dan perawat ngobrol dan bercanda, mungkin supaya saya ga takut kali ya. Tidak lama setelah itu kaki sudah tidak berasa, dokter utama datang dan memulai proses operasi. Di proses operasi kali ini terasa lebih lama. Sambil terus berdoa di dalam hati, perut berasa diobok-obok. Lalu suara tangisan bayi terdengar kencang. Dan berselang dua menit kemudian, terdengar lagi suara tangisan bayi. Sudah lega saat dokter anak bilang keduanya sehat. Memang berat badannya di bawah 2,5kg tapi keduanya sehat. Dan ada sesaat inisiasi menyusui dini (IMD) walopun asi belum keluar. Lalu setelah itu, dokter menyelesaikan jahitan. Cukup lama dan saya tidak ingat lagi ketiduran. Bangun – bangun sudah di ruang rawat inap. Sebagai informasi, untuk tindakan caesar saya ini tidak menerapkan metode eracs ya. Kalau metode ini kembali lagi ke dokter ya.
Dikarenakan bayi lahir dengan berat badan rendah, dan butuh tetap hangat, selama satu hari pertama, bayi kembar saya tidak dibawa ke ruangan saya. Di hari kedua, baru bayi dibawa ke ruangan saya. Untuk hari pertama, karena masih ada efek anestesi dan efek obat, saya masih belum merasakan sakit di luka jahitan. Hari pertama, saya hanya berbaring saja. Namun keesokannya berasa sedikit sakit di luka jahitan. Apabila minum obat pereda nyeri, baru sakitnya hilang. Namun saya sudah mulai berjalan perlahan. Karena perawat juga menganjurkan untuk berlatih jalan. Selama di RS, saya memanfaatkan waktu untuk banyak istirahat . Apalagi karena masih tidak boleh ada yang membesuk, jadi istirahat saya jadi lebih total. Menu makanan di RS juga enak – enak. Setiap harinya diberikan buku menu untuk kita pilih. Syukurlah saya dan anak – anak boleh pulang di hari ketiga. Salam sehat selalu ya mamma pappa!


